Senin, 06 November 2017

Riser yang Mengguncang Rasa

 Sumber ilustrasi : www.kfcku.com


Senin pagi usai mengantar semua keperluan untuk anak saya yang mondok di asrama Ma'had Ar-Rahman Banjarbaru, saya pun meluncur ke Banjarmasin.  Sesampai di Jalan Ahmad Yani km.4,5 saya pun membelokkan matic saya ke KFC untuk beristirahat dan ngemil tentunya.  Niatnya sih sewaktu di jalan akan memesan Chick n Cheese atau Burger Deluxe.

Begitu saya order pesanan, ternyata burger baru tersedia jam 11 pagi.  Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 10.00 wita.  Mbak penjaga kasir pun menawarkan menu lain terutama menu breakfast, selain ayam goreng & nasi putih.  Akhirnya saya pun memilih Riser.  Untuk minuman, saya pesan Mocca Float (tapi tanpa float hahaha, berhubung kata si mbak float-nya belum ready).

Kira-kira menunggu 10 menit, riser pun tiba.  Dulu saya memang pernah nyicip twister, agak berat memang.  Nah, bagaimana dengan riser?  Gigitan pertama masih merasakan khasnya tortilla (roti pipih berwarna putih, mirip-mirip roti ala Mexico atau mungkin India).  Gigitan kedua baru terasa gurihnya scramble egg (telur orak-arik) yang berpadu dengan keju.  Gigitan selanjutnya baru terasa perpaduan seluruhnya, termasuk asam & manisnya mayonaise serta bumbu pedas ditambah irisan daging ayam yang digoreng dengan tepung crispy.  Yummy bangeettt!!!

Penasaran dengan Riser?  Bisa dipesan tapi sebelum jam 11 pagi ya.



Senin, 30 Oktober 2017

Uzma's Untold Story (Resensi Kumpulan Cerpen)






Enam belas cerita pendek dikemas dalam satu buku dengan mengangkat Uzma's Untold Story sebagai judul utama.

Uzma's Untold Story sendiri menceritakan tentang Salma Begum yang berasal dari kota Srinagar, Kashmir, India pergi mengunjungi sepupu perempuannya, Uzma yang tinggal di kota Jammu, Jammu-Kashmir.
Keduanya lama tak bersua apalagi Salma tinggal di wilayah yang rentan konflik.  Keakraban terjalin erat semenjak mereka kecil namun pada hari Salma tiba di rumah Uzma justru terasa hambar.  Ada yang tersimpan dalam benak Uzma namun Uzma tampak enggan bercerita.  Hanya isyarat mata dan bahasa tubuhnya membuat Salma merasakan sesuatu yang tak wajar. Penasaraaann???
Cerita cinta yang sering ditayangkan pada film-film India sebenarnya yang mendorong saya untuk menulis Uzma's Untold Story, karena realita yang terjadi tak selalu sama dengan yang ada di film-film tersebut. Kisah tersembunyi yang disimpan Uzma menghentakkan Salma bahwa salah kaprah akan aktualisasi cinta justru merusak cinta itu sendiri.

Kamis, 26 Oktober 2017

Voting Tak Wakili Suara Rakyat

(Ilustrasi : okezone.com)





Sidang paripurna DPR RI pada hari Selasa 24/10/2017 akhirnya ketok palu mensahkan Perppu Ormas menjadi undang-undang.  Disahkannya perppu ini menjadi undang-undang karena voting dimenangkan oleh kubu fraksi yang mendukung perppu tersebut., yakni PDIP, Golkar, Demokrat, PKB, PPP, Nasdem & Hanura. Sehari sebelumnya 23/10/2017, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan, "Kami dari pemerintah yang penting mufakat dulu, apapun ini menyangkut ideologi Pancasila, negara punya aturan, dan Pancasila itu komitmen bukan hanya pemerintah, tapi juga anggota DPR, seluruh fraksi-fraksi seluruh partai politik saya kira sudah komitmen dengan namanya Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika (m.detik.com, 24/10/2017).

Senin, 23 Oktober 2017

Mengkritisi Lahirnya Perppu Ormas




(ilustrasi ; sumber Tribunnews)
Jargon demokrasi yang berkoar akan kebebasan berkumpul (berorganisasi) termasuk menyampaikan pendapat kepada pihak tertentu baik individu maupun kelompok & pemerintah kini nampak dibatasi. Terutama bila pendapat yang disampaikan tidak sejalan dengan hal-hal yang menjadi kebijakan pemerintah.

Jumat, 16 Juni 2017

Mengasah Pion-Pion Belia


(ilustrasi : liputanislam.com)

Dunia memiliki insan-insan muda belia yang menjadi bibit penerus pembangun peradaban.  ‘Salah asuhan’ akan menjadi salah satu faktor penentu dalam gagalnya pion-pion belia ini terbentuk menjadi sosok yang diharapkan.  Sosok yang mampu menjadi pembangun peradaban.  Sosok yang berupaya mengisi kehidupan dunia dengan berbagai aktivitas positif dan bersinergi secara holistik. Sosok yang memiliki pemikiran bahwa apapun yang ia lakukan memiliki keterkaitan erat dengan Sang Pencipta (ketakwaan individu).

Rabu, 14 Juni 2017

Tidak Sedang Terjebak Nostalgia


Khilafah bukanlah sebatas romantika sejarah yang menjadi nostalgia bagi umat Islam.  Berbagai peninggalan bersejarah dari masa kekhilafahan baik situs berupa masjid, kampus, istana, gedung-gedung, taman, noria (roda air), dan sebagainya sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa kemajuan & kesejahteraan umat dalam kehidupan terwujud di masa itu.  

Minggu, 11 Desember 2016

Konstruksi Ketahanan Keluarga dalam Proteksi Khilafah

ilustrasi : pinterest.com

Mia Endriza Yunita

          Kita sudah terlalu lelah menerima kenyataan pahit yang menimpa para insan yang sejatinya adalah personil dari keluarga. Keluarga sendiri merupakan benteng terkecil dari lingkup masyarakat.  Fenomena pahit yang menimpa keluarga-keluarga di Indonesia setiap harinya terpampang dalam kehidupan nyata dan menjadi suguhan tayangan di layar kaca, gadget & media cetak yang membuat  masyarakat semakin terpana akan kenyataan yang ada.  Ada seorang ibu yang nekad memutilasi anaknya, juga seorang ayah yang mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan meminum racun serangga akibat hubungan antara pasutri yang tidak lagi harmonis, hingga seorang anak yang dicabuli oleh tetangganya sendiri, perselingkuhan dari pasutri,angka perceraian yang kian meningkat dan seterusnya.  Na’udzubillah min dzalik!

            Proteksi negara kepada individu masyarakat yang mencakup keluarga nampak hanya berkutat pada solusi parsial.  Saat kasus kekerasan seksual anak merebak dan negara kemudian memutuskan hukum kebiri bagi pelaku justru ternyata tidak memiliki efek jera.  Masih selalu ada kasus serupa yang kemudian muncul kembali.  Ini tentu menjadi pertanyaan.  Mengapa?  Bahkan ketahanan keluarga pun akhirnya kini lambat laun kian melemah.  Jatuh pada titik nadir.  Bila kita jeli melihat artinya, selama ini yang digadang-gadang menjadi solusi paripurna ternyata hanya bisa berjalan sebagai solusi parsial dan tidak menjamin permasalahan yang menimpa keluarga-keluarga di Indonesia bahkan dunia sekalipun menjadi selesai.

          Masyarakat sendiri lebih cenderung berpikir bahwa solusi Islami yang ditawarkan baik oleh pemerintah maupun individu yang bergerak di lembaga yang menawarkan solusi-solusi tersebut seakan-akan sudah menjadi solusi final.  Keberadaan lembaga pendidikan, keuangan, kesehatan dan sebagainya yang berlabel Islami dianggap sudah menyelesaikan permasalahan yang berkecamuk dalam masyarakat, sementara sistem dari bernegara yang mengatur kehidupan masyarakat masih berlandaskan pada kapitalisme sekulerisme.  Tentu saja semua permasalahan baik pemicu maupun yang menjadi anak masalah hingga akhirnya mengancam ketahanan keluarga sebenarnya belum tuntas disolusikan karena Islam masih belum dijadikan sebagai sistem negara.